Sumenep (pmijawatimur.or.id) — Semangat kemanusiaan dapat tumbuh dari peristiwa sederhana. Hal itu dirasakan Achmad Basri (56), staf pengajar SMKN 1 Kalianget sekaligus Pembina Palang Merah Remaja (PMR) dan relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sumenep.
Basri mengawali kegiatan donor darah pada 1989, saat masih kuliah. Ketika itu, salah satu rekan kampusnya membutuhkan darah golongan A. “Itu awal saya donor. Selain itu, di UKM KSR PMI Unit IKIP Malang memang rutin diadakan donor darah setiap tiga sampai empat bulan sekali,” kenang Basri.
Hingga kini, pria kelahiran Sumenep, 9 September 1968 tersebut telah melakukan donor darah sekitar 55 kali. Bagi Basri, donor darah tidak hanya bermakna sebagai aksi kemanusiaan, tetapi juga memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh.
“Setelah donor, badan terasa lebih fresh dan segar. Peredaran darah lancar, pegal-pegal hilang, dan tubuh terasa lebih ringan,” ujarnya.
Kegiatan donor darah yang dilakukannya mendapat dukungan penuh dari keluarga, teman, dan lingkungan sekitar. Bahkan, kebiasaan mulia tersebut turut diikuti oleh salah satu keponakannya.
Kendati demikian, Basri mengaku pernah mengalami penolakan saat hendak mendonorkan darah karena tekanan darahnya tinggi. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya.
“Waktu itu rasanya kecewa, karena golongan darah saya sedang sangat dibutuhkan. Tapi saya tidak menyerah dan tetap berkomitmen untuk terus donor,” tegasnya.
Agar tetap sehat dan bisa mendonorkan darah secara rutin, Basri menerapkan pola hidup sehat. Ia menjaga asupan makanan, waktu istirahat, kondisi pikiran, serta memperkuat ibadah.
Ia pun berpesan kepada masyarakat agar tidak ragu menjadi pendonor darah.
“Jadikan donor darah sebagai sarana meningkatkan keimanan. Donor darah adalah nilai ibadah yang luar biasa. Selama darah kita disumbangkan kepada yang membutuhkan, InsyaAllah menjadi tabungan akhirat dan dicatat sebagai amal ibadah oleh Allah SWT,” tuturnya.
Dengan dedikasi dan ketulusan yang ditunjukkan, Achmad Basri menjadi contoh bahwa donor darah bukan sekadar tindakan medis, melainkan panggilan hati untuk menolong sesama dan menebar nilai kemanusiaan.(red)










