Oleh: Dr. Ir. Budi Sawitri, SST, M.Si, CIQaR, CICoR
Bencana tidak pernah bisa untuk diprediksi, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui kecepatan bertindak dan keberpihakan pada nilai kemanusiaan.
Ketika Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara kembali dilanda musibah, yang sedang diuji bukan hanya kesiapan wilayah terdampak, melainkan kekuatan solidaritas nasional.
Pada situasi seperti ini, respon Palang Merah Indonesia khususnya PMI Provinsi Jawa Timur menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak boleh menunggu tapi harus bergerak.
Gerak relawan lintas wilayah merupakan keniscayaan bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Jarak ribuan kilometer tidak seharusnya menjadi alasan untuk lambat hadir.
Keputusan PMI Jawa Timur dalam menjawab panggilan kemanusiaan membuktikan bahwa solidaritas nasional dapat bekerja melampaui batas geografis. Relawan bergerak bukan karena kewajiban administratif, tetapi karena dorongan nurani untuk hadir di tengah penderitaan sesama.
PMI Jawa Timur memiliki modal sosial yang cukup besar dan sudah terbangun diantaranya puluhan ribu anggota Palang Merah Remaja, ribuan Korps Sukarela dan Tenaga Sukarela di tingkat kabupaten/kota.
Kekuatan ini tidak berhenti sebagai potensi, tetapi dikelola dan digerakkan secara sistematis. Respon PMI Jawa Timur pada bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara menunjukkan pendekatan yang tepat.
Bantuan tidak dikirim secara seremonial, melainkan melalui pengiriman tim dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan lapangan seperti misalnya layanan dasar, dukungan sanitasi, armada air bersih, serta logistik yang terkoordinasi.
Pendekatan ini menegaskan bahwa kemanusiaan membutuhkan lebih dari empati, tapi lebih menuntut profesionalisme, disiplin, dan ketepatan sasaran.
Peran pengurus PMI Provinsi Jawa Timur menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas respon tersebut. Pengurus tidak sekadar melepas keberangkatan relawan, tetapi memastikan seluruh proses berjalan aman, terencana, dan terhubung dengan sistem nasional penanggulangan bencana.
Kepemimpinan semacam ini sangat penting agar relawan dapat bertugas optimal tanpa mengorbankan keselamatan dan keberlanjutan organisasi.
Respon kemanusiaan juga menjadi cermin bahwa penanganan bencana adalah kerja kolektif. Dukungan stakeholder seperti dunia usaha, masyarakat, dan pemerintah daerah melalui berbagai skema bantuan memperlihatkan tumbuhnya kesadaran bahwa bencana bukan urusan satu wilayah atau satu institusi.
Pada situasi ini, PMI berperan sebagai simpul kepercayaan yang menjembatani kepedulian publik dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Gerak PMI Jawa Timur patut ditempatkan sebagai praktik solidaritas nasional yang cukup dibanggakan.
Di tengah meningkatnya intensitas bencana akibat perubahan iklim dan kerentanan sosial, Indonesia membutuhkan model respon yang cepat, lintas wilayah, dan terorganisir.
Solidaritas tidak boleh hadir hanya saat sorotan media menguat, tetapi harus menjadi sistem yang selalu siap bergerak.
Keberangkatan relawan PMI Jawa Timur ke Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang bantuan.
Mereka menjadi pengingat bahwa kemanusiaan menuntut kehadiran nyata, bukan janji. Selama penderitaan masih ada, solidaritas tidak boleh menunggu dan selama itu pula, relawan PMI akan tetap berada di garis depan kemanusiaan bangsa.
Salam kemanusiaan. (Dr. Ir. Budi Sawitri, SST, M.Si, CIQaR, CICoR)


















